Banyak yang mengamuk, protes, merasa miris, dan perih melihat kejadian di Koja, Tanjung Priok semalam.
Mungkin saya tidak melihat, tapi saya mendengar dan membaca beritanya dari twit @Metro_tv di twitter. Pada intinya, di sana terjadi bentrok antara aparat dan warga. Penyebabnya, penertiban lahan yang dilakukan oleh Satpol PP ditentang oleh warga. Entah bagaimana warga bisa berubah menjadi brutal, korban berjatuhan, bahkan ada yang meninggal. Dikabarkan dalam berita bahwa suasana di Koja semalam mencekam, tampaknya sangat seram.
Teman-teman di facebook pun segera mengupdate status mereka, merasa kesal sama aparat, merasa miris, ngeri dan sebagainya, termasuk saya.
Saya sempat marah, saya sempat merasa benci bukan main sama aparat yang menurut saya (saat itu) sangat arogan, mentang-mentang mereka punya otoritas lalu mereka bisa berbuat seenaknya.
Tapi tidak lama kemudian, saya terenyuh, sesaat setelah melakukan saat teduh saya merasa salah jika saya harus membenci aparat.
Aparat dan warga adalah sama-sama manusia. Punya rasa dan perasaan. Sekarang saya berpikir, saya seorang mahasiswa sosiolog, saya belajar penyimpangan saya belajar macam-macam ilmu tentang masyarakat, maka alangkah tidak bijaksananya saya jika saya berpihak pada salah satu diantara warga dan aparat.
Warga dan aparat, tidak ada yang bisa disalahkan dan tidak ada pula yang bisa dibenarkan. Tapi ada yang bisa diperbaiki.
Aparat, adalah masyarakat biasa ketika seragam mereka dilepaskan. Saat seragam itu kembali mereka kenakan, ada perasaan yang lebih secara psikologis, merasa lebih berwenang dan merasa punya kuasa, merasa “saya lebih hebat dari kalian (masyarakat biasa)” dan sebagian besar perasaan itulah yang menciptakan arogansi. Tapi disisi lain, mereka adalah masyarakat biasa, yang dituntut untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Kita tidak pernah tahu bagaimana bunyi perintah atasan mereka, ketika mereka harus terjun ke lapangan untuk menertibkan sesuatu. Mereka punya tanggungjawab, yang kita tidak pernah tau apakah mereka merasa sangat terbebani jika harus menertibkan PKL misalnya, atau penertiban-penertiban yang lain. Kita tidak pernah tau bagaimana perasaan mereka ketika harus menertibkan (menanggalkan ke’seragam’an mereka). Mereka juga masyarakat biasa, yanbg tidak bisa kita golongkan ke dalam golongan atas, seperti mereka yang duduk diruangan ber-ac dan penuh tikus itu.
Masyarakat, orang yang merasa tidak didengarkan aspirasinya, semakin terinjak-injak oleh kekuasaan orang-orang elit diatas sana. Merasa miris ketika elit-elit dengan seenak jidatnya memakan uang rakyat bermilyar-milyar, dan mereka masih harus tinggal di jalanan, di pemukiman kumuh, bertembokan tripleks bahkan kardus, digusur-gusur pula. Menyedihkan memang, jika harus melihat keadaan masyarakat kita. Tapi disisi lain, warga yang merasa punya hak untuk hidup dan sejahtera ini juga harus mengerti atau setidaknya mencoba mengerti. Bagaimana aparat harus menjalankan tugasnya. Saya tidak bisa mengatakan bahwa warga sepenuhnya benar karena mereka sangat diperlakukan seenaknya. Kita tidak pernah tahu bagaimana warga yang sudah dihimbau untuk tidak tinggal di daerah tertentu, tapi tetap kekeuh untuk tinggal disitu. Memang, mereka seharusnya diperlakukan lebih adil, dan lebih bijaksana. Tapi, warga juga harus bisa bijaksana membantu dan mengerti, bekerja sama untuk menciptakan ketertiban. Jika, kedua pihak ini saling memiliki rasa menghargai, pasti tidak akan terjadi hal yang tidak diinginkan itu. Jika pendeketan aparat untuk melakukan penertiban tidak dalam bentuk yang arogan dan brutal, tapi lebih kepada persuasif dan damai, tentu tidak akan terjadi kerusuhan yang memakan korban jiwa tersebut. Sayangnya, saya tidak begitu mengerti, mengapa hal tersebut agaknya sulit sekali tercipta di negara kita.
Rasa skeptis yang menggebu-gebu semalam bisa reda saat ini. Ketika saya bertanya, “APAKAH MASIH ADA BERITA BAIK DI NEGARA KITA ???” maka saya sekarang bisa menjawab (meski dengan nada pelan dan mengelus dada) “PASTI ADA, karena masih banyak generasi muda yang peduli pada bangsa ini, masih banyak masyarakat yang berdoa untuk negara ini. Semoga Tuhan mendengarkan doa kita. Amin”
4.16.2010
4.05.2010
drama oh drama
Langganan:
Postingan (Atom)
